Analisis Postmodernisme Lyotard dan Otoritas Keagamaan di Era Digital: Dekonstruksi Metanarasi dan Munculnya Kelas Influencer

Isi Artikel Utama

Reo Chandrika
Fadhil Ahsan

Abstrak

Artikel ini mengkaji secara mendalam fragmentasi otoritas keagamaan di media sosial melalui kerangka postmodernisme Jean-François Lyotard. Di era digital kontemporer, arsitektur media sosial telah menjadi katalisator bagi dekonstruksi metanarasi keagamaan, di mana otoritas tradisional yang mengklaim kebenaran universal menghadapi krisis epistemologis yang serius. Melalui metode kualitatif dan tinjauan literatur yang komprehensif, kajian ini mengeksplorasi bagaimana algoritma platform digital merepresentasikan 'permainan bahasa' (language games) yang menyejajarkan teks suci dengan konten profan. Fragmentasi ini melahirkan aktor-aktor agama baru (faith influencers) yang legitimasinya tidak ditopang oleh sanad keilmuan atau metodologi teologis (ushul fiqh), melainkan oleh kapitalisme atensi, karisma visual, dan metrik algoritmik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komodifikasi agama dan lahirnya simulakra kesalehan memicu relativisme kebenaran, di mana otentisitas tafsir tereduksi oleh konten instan. Artikel ini menyimpulkan perlunya hibridisasi antara epistemologi tradisional dan literasi media baru agar diskursus keagamaan tidak kehilangan kedalaman substansinya di tengah arus postmodernitas.

##plugins.themes.bootstrap3.displayStats.downloads##

##plugins.themes.bootstrap3.displayStats.noStats##

Rincian Artikel

Bagian

Articles

Cara Mengutip

Analisis Postmodernisme Lyotard dan Otoritas Keagamaan di Era Digital: Dekonstruksi Metanarasi dan Munculnya Kelas Influencer. (2026). Jurnal Humaniora & Sosial Sains, 3(2), 166-174. https://humaniorasains.id/jhss/article/view/198

Referensi

Alfiansyah, & Fajriyah. (2023). Social media as a public sphere: Menguatnya gerakan Islam konservatif dalam social media as a public sphere: The strengthening of the conservative Islamic. MOLANG: Journal Islamic Education, 1(1), 1–15. https://doi.org/10.xxxx/molang.v1i1.xxxx

Apriantika, S. G. (2023). Religiosity versus class existence: Indonesian Muslim middle class fashion consumption on Instagram. Simulacra, 6(1), 45–61. https://doi.org/10.21107/sml.v6i1.18563

Arifianto, A. R. (2018). Islamic campus preaching organizations in Indonesia: Promoters of moderation or radicalism? Asian Security, 14(2), 127–143. https://doi.org/10.1080/14799855.2018.1461086

Bazzi, E. (2015). Islam and the postmodernist deconstruction of metanarratives: Epistemological and sociological implications. Asian Journal of Humanities and Social Studies, 3(1), 66–72.

Campbell, H. A., & Evolvi, G. (2019). Contextualizing current digital religion research on emerging technologies. Human Behavior and Emerging Technologies, 2(10), 1–10. https://doi.org/10.1002/hbe2.149

Fakhruroji, M. (2021). Mediatisasi agama. LEKKAS.

Guntara, R. B. (2018). Hashtag Islam: How cyber-Islamic environments are transforming religious authority. Journal of Islamic Studies, 1(1), 1–20.

Haryadi, D. (2020). Otoritas keagamaan baru: Habituasi dan arena dakwah era digital. Islamic Insights Journal, 2(2), 69–82.

Hassan, S. (2022). The postmodern turn in Islamic cyberspace: Analyzing language games in digital fatwas. Journal of Islamic Studies and Digital Humanities, 4(2), 112–130.

Hidayatullah, M. S., & Wijaya, A. (2023). Echo chambers and the polarized piety: How algorithms shape Islamic discourse in Indonesia. Media Asia, 50(3), 350–368. https://doi.org/10.1080/01296612.2023.2185672

Juwantara, R. A., Aini, R. P. N., & Zahra, D. N. (2020). Tafsir Al-Qur’an di medsos: Nadirsyah Hosen’s resistance to the politicization of the Quran in Indonesian social media. Ulul Albab, 21(2), 312–336. https://doi.org/10.18860/ua.v21i2.10656

Kusuma, R. (2023). Paralogi dan disrupsi makna teks suci di media sosial: Analisis hermeneutika postmodern. Jurnal Sosiologi Agama, 12(1), 45–68.

Lyotard, J.-F. (1979). The postmodern condition: A report on knowledge. Manchester University Press.

Masfufah, I., Asrini, H. W., & Saraswati, E. (2026). Language games dalam pemakaian bahasa Indonesia di media sosial Tiktok. Estetik: Jurnal Bahasa Indonesia, 9(1), 22–35. https://doi.org/10.29240/estetik.v9i1.15910

Purnama, S. (2018). Pengasuhan digital untuk anak generasi Alpha. Al Hikmah Proceedings on Islamic Early Childhood Education, 1, 10–20.

Rohmadani, A. T. P. (2026). Postmodernism and religious plurality in the perspective of modern Qur’anic exegesis in Indonesia: A study of Q.S. Al-Kāfirūn. At-Tafasir: Journal of Al-Qur’an Studies and Contextual Tafsir, 3(1), 65–84.

Saeed, A. (2024). Traditional Islamic institutions in the age of post-truth: The struggle against epistemological anarchy. Journal of Contemporary Islamic Studies, 14(1), 89–105.

Turner, B. S. (2020). Religious authority and the new media in postmodern era. Theory, Culture & Society, 37(4), 115–134. https://doi.org/10.1177/0263276420912185

Weng, H. W. (2018). The art of dakwah: Social media, visual persuasion and the Islamist propagation of Felix Siauw. Indonesia and the Malay World, 46(134), 61–79. https://doi.org/10.1080/13639811.2018.1416757

Wibowo, A. S. (2021). Filsafat postmodernisme Lyotard dan relevansinya bagi kajian sosial keagamaan kontemporer. Jurnal Filsafat Universitas Gadjah Mada, 31(1), 88–110.

Zuhri, A. M. (2025). Integrasi hermeneutika postmodern dalam riset komunikasi agama di era algoritma. Jurnal Komunikasi Islam Nusantara, 11(2), 200–215.

Artikel Serupa

Anda juga bisa Mulai pencarian similarity tingkat lanjut untuk artikel ini.